Situs Web Kepustakaan

Tokoh Perfilman Indonesia

Hasil Kerjasama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan Sinematek Indonesia

Mieke Wijaya

Artikel

Rubrik ini telah dikunjungi
35 kali

 

 

BERANDA BIOGRAFI FILM FOTO ARTIKEL PENGHARGAAN

Detail Cantuman

Artikel

↖ kembali

Bahasa :

Indonesia

Judul :

Festival Film Indonesia : Sumber Keributan Orang-orang Film

Abstrak / Ringkasan :

Festival Film Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta merupakan penyelenggaraan yang kelima belas kalinya, namun acara ini ternyata merupakan sumber kekisruhan di kalangan seniman-seniman film yang berkarya. Hal ini terbukti sejak awal penyelenggaraan FFI hingga tahun ini kekisruhan belum dapat dihilangkan walau penyebabnya berbeda-beda tiap tahunnya dan sempat pada tahun 1959 penyelenggaraan FFI macet total yang disebabkan karena tidak adanya dana dan juga karena iklim perfilman Indonesia saat itu sedang menurun. Pada tahun 1960 FFI baru disenggarakan lagi namun pertengkaran juga tidak dapat dihindari, kemudian kondisi politik di Indonesia juga menyebabkan FFI tidak bisa diadakan untuk beberapa tahun dan baru pada tahun 1966 FFI direncanakan untuk diadakan kembali dan berubah namanya menjadi Pekan Apresiasi Film Nasional. Pada tanggal 9 hingga 16 Agustus 1967, Pekan Apresiasi Film Nasional diadakan kembali dan keributan kembali terjadi karena tidak adanya film terbaik sehingga para tokoh film menilai percuma diadakan festival jika tidak ada satupun film yang dianggap baik. Namun pada Pekan Apresiasi Film ini, predikat aktor dan aktris terbaik berhasil diraih oleh Sukarno M. Noor dan Mieke Wijaya. Karena kejadian ini menyebabkan penyelenggaraan FFI berhenti hingga 6 tahun lamanya dan berkat Turino Junaidi yang menganggap perlunya festival selain untuk mendorong perbaikan film dan menggalang rasa cinta terhadap film Indonesia, juga sebagai arena untuk memilih film terbaik yang bisa diikut sertakan dalam festival film Internasional. Akhirnya pada tahun 1973 FFI diselenggarakan kembali di Jakarta dan bagi para pemenangnya diberikan sebuah piala yaitu Piala Citra, namun tetap saja FFI kali ini diwarnai oleh keributan. Tahun 1974 FFI diselenggarakan di Surabaya, kemudian tahun 1976 dilaksanakan di Bandung dan kemudian tahun 1977 kembali dilaksanakan di Jakarta tetap dengan berbagai keributan yang muncul. Hingga akhirnya pada tahun 1984 FFI diadakan di kota Yogyakarta dan keributan kembali tidak bisa dihindari sehingga sepertinya soal ribut-ribut ini sudah membudaya terjadi dalam setiap penyelenggaraan FFI dari tahun ke tahun.

Subjek / Kata Kunci :

Piala Citra

Turino Djunaidy, 1927-2008

Sukarno M. Noor, 1931-1986

Pekan Apresiasi Film Nasional

Politik

Perfilman

Mieke Wijaya, 1940-

Yogyakarta

Festival Film Indonesia

Nama Terkait Pembuatan Karya Ini :

Badan yang memiliki :

Sinematek Indonesia

Sumber Informasi :

Minggu Merdeka, 2 September 1984

Dokumen Digital :

Minggu_Merdeka_2_Sep_84.pdf
3522979 bytes.
(Dibutuhkan aplikasi pembaca dokumen PDF)


↖ kembali